Manusia Flores Masih Berkeliaran, Cek Fakta Terbarunya

Dalam foto yang diambil 14 September 2009 ini, para pekerja bekerja di lokasi penggalian gua Liang Bua tempat ditemukannya sisa-sisa Homo floresiensis di Ruteng, pulau Flores, Indonesia. (AP/Achmad Ibrahim)

Nenek moyang manusia atau dikenal dengan sebutan ‘Homo Sapiens’, dulunya juga merupakan leluhur dari spesies orangutan, simpanse, dan kera.

Spesies Homo Sapiens sendiri juga terbagi berdasarkan wilayah tempat tinggalnya. Misalnya ‘Neanderthals’ dan ‘Homo Antecessor’ di Eropa, Denisovans di Asia, Homo Naledi di Agrika Selatan, dan Homo Erectus yang tersebar di beberapa wilayah lain.

Salah satu nenek moyang manusia juga disebut ‘Homo Floresiensis’ yang bermukim di Flores. Spesies manusia ini disebut pula ‘Hobbit’ karena ciri-ciri fisiknya mirip spesies fiksi karangan Tolkien di Lord of the Rings.

Homo Floresiensis dipercaya bertubuh ceper, dengan tinggi cuma 106 cm. Mereka memiliki otak berukuran kecil, tak punya dagu, dan telapak kakinya rata.

Seperti nenek moyang kita lainnya, keluarga Homo Floresiensis dipercaya telah punah sejak puluhan ribu tahun yang lalu. Namun, penemuan pada 2004 lalu mencuatkan pertanyaan baru.

Kala itu, kelompok arkeolog menemukan serpihan atau fosil yang dipercaya sebagai Homo Floresiensis di Liang Bua, yakni gua besar di Kepulauan Flores. Setelah diamati, usia fosil itu dipercaya berasal dari 12.000 tahun lalu.

Sebagai catatan, 12.000 tahun lalu peradaban manusia sudah lumayan modern. Manusia sudah bisa berkebun, beternak, memeliharan binatang, bahkan menciptakan agama.

Seharusnya, ketika peradaban manusia sudah semasif itu, Homo Floresiensis sudah punah alias berevolusi menjadi bentuk manusia modern.

Penemuan tahun 2004 itu kemudian diperkuat oleh temuan seorang ilmuwan bernama Gregory Forth pada 2022 lalu. Menurut dia, setidaknya ada 30 warga lokal suku Lio yang bersaksi bahwa mereka melihat makhluk kerdil mirip manusia.

Warga setempat menyebut makhluk misterius itu sebagai ‘setengah manusia, setengah kera’. Forth pun meyakini bahwa makhluk tersebut adalah Homo Floresiensis yang masih tersisa.

Manusia Flores Sudah Punah?

Keyakinan Forth lalu dibantah oleh Matthew Tocheri, yakni peneliti di Smithsonian Institution. Ia fokus mempelajari soal sejarah evolusi manusia.

Menurut Tocheri, ia akan jadi salah satu orang yang paling senang jika manusia Flores purba nyatanya belum punah. Namun, ia meragukan hipotesis tersebut.

“Saya tak akan menghabiskan waktu untuk mencari tahu keberadaan mereka. Sudah pasti mereka telah punah,” ujarnya, dikutip dari Iflscience, Senin (8/5/2023).

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa suatu spesies dapat bertahan di tengah populasi jika jumlah individunya mencapai angka tertentu. Sangat kecil kemungkinan Homo Floresiensis saat ini ada banyak.

Namun, jika penampakannya cuma terlihat oleh 30 warga lokal Lio, maka jumlah itu terlalu kecil untuk bertahan di tengah populasi modern.

Corey Bradshaw, seorang ilmmuwan dari Flinders University mengamini pendapat Tocheri.

“Untuk hitung-hitungan dasarnya, 50 efektif individual dibutuhkan untuk menghindari kepunahan. Ini setara dengan populasi 250 sampai 500 orang,” ia menjelaskan.

Artinya, untuk populasi 2.500 hingga 5.000 orang, setidaknya diperlukan 500 efektif individu spesies tertentu agar bisa terus bertahan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*