Waduh! Penjualan Mobil Ternyata Turun Terus, Harga Jadi Biang Kerok?

Waduh! Penjualan Mobil Ternyata Turun Terus, Harga Jadi Biang Kerok?

Penjualan Mobil

Penjualan mobil di Indonesia ternyata stagnan sekitar 1 juta unit dalam 10 tahun terakhir. Bahkan jika dibandingkan 10 tahun lalu, penjualan mobil saat ini justru lebih rendah. Ketika tahun 2013 penjualan mobil lebih dari 1,2 juta unit, di tahun 2023 justru hanya 1 jutaan, ada penurunan hingga 25%.

“Kita nggak gegabah dalam mencari solusinya. Sekarang kita sedang mengkaji dengan LBM UI. Kenapa ini satu dekade masih satu juta, jadi banyak sisi yang kita lihat apakah mobilnya terlalu mahal, apakah kemudian perlu sisi lain lagi, misalnya pertumbuhan ekonomi, belum selesai studinya,” kata Sekretaris Umum Gaikindo Kukuh Kumara dikutip Rabu (17/1/2024).

Untuk meningkatkan jumlah penjualan maka indikasinya perlu pertumbuhan yang lebih tinggi. Sebagai contoh, ketika penjualan menembus 1,4 juta unit saat itu pertumbuhan ekonomi https://rtpkas138.skin/ di 2011, 2012 mencapai 6%.

Selain itu, pabrikan juga harus mampu untuk menyesuaikan dengan kebiasaan pembeli muda yang meminta kelengkapan fitur. Jika tidak lengkap, banyak pembeli cenderung untuk mengalihkan pembelian bahkan bukan tidak mungkin menunda.

“Kendaraan-kendaraan kita masih didominasi oleh MPV, tapi generasi milenial ini yang suka main gadget, jadi ini juga tantangan para pelaku industri, kendaraannya semakin canggih, kalau dulu mungkin waktu saya masih aktif di operasional itu hanya sekadar power window. Sekarang tentunya gadget, semuanya harus ada Google maps-nya dan sebagainya, Ini yang harus kita lakukan,” kata Kukuh.

Stagnannya penjualan mobil yang hanya sekitar 1 juta unit per tahun sudah seperti jebakan karena industri otomotif terus berada di kondisi ini dalam 10 tahun terakhir.

“Kita juga harus mampu melihat ke sana. Itu terkait one million trap dan kita juga sudah berusaha untuk membuat perjanjian dengan negara lain. harus segera dilakukan, kita harus agresif juga,” ujar Kukuh.

Di sisi lain, negara tetangga juga kian agresif mempertahankan industri otomotifnya. Selain mengundang investor baru, komponennya pun difasilitasi supaya investasinya ada di negara mereka. Indonesia harus segera melakukan tindakan-tindakan untuk melakukan persaingan itu.

“Kita masih kalah dengan Thailand, jumlah supplier kita kalah dari mereka, dan ini harus betul-betul kita amati. Sebelum diskusi, misalnya Thailand membentuk komite industri kendaraan bermotor yang dipimpin oleh perdana menterinya. Ini menunjukkan keseriusan mereka, kemudian mereka nampaknya juga betul-betul menangani itu, investor senang di sana. Kalau bisa CEO-nya mimpin di Thailand 5-6 tahun atau 10 tahun setelah itu pensiun lalu tinggal di sana, boleh ditelusuri itu banyak yang melakukan seperti itu,” kata Kukuh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*